| Mengenal Museum Sonobudoyo Yogyakarta | Apr 28, ’08 7:55 AM for everyone |
JAVA Institut merupakan embrio dari keberadaan Museum Negeri Sonobudoyo. Yakni, sebuah organisasi yang mendalami tentang kebudayaan Jawa dimana anggotanya terdiri dari orang-orang kulit putih dan Indonesia. Ir Th Karsten merupakan arsitek yang membuat perencanaan bangunan. Setelah terkumpul beberapa koleksi benda-benda budaya dari wilayah Jawa, Madura, Bali dan Lombok, akhirnya pada tgl 6 November 1935, Museum Sonobudoyo diresmikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VIII, yang menempati bekas kantor Schauten di sisi utara Alun-alun Utara Kraton Jogja.
Sampai saat ini, Museum Sonobudoyo memiliki 42.698 koleksi yang terdiri dari 10 kategori, yakni koleksi geologika, biologi, etnografi, arkeologika, historika, numismatika, filologika, keramologi, seni rupa dan teknologika. Selain ruang pamer sebagai tempat memajang benda-benda koleksi, Museum Sonobudoyo juga dilengkapi dengan auditorium, storage koleksi, perpustakaan, laboratorum, preparasi, kantor dan fasilitas umum.
Manapakkan kaki memasuki pendapa museum, yang merupakan bangunan tertua di kompleks museum, akan dijumpai 3 perangkat gamelan. Seperangkat gamelan kuno Kyai Mega Mendhung dari Kraton Kasepuhan Cirebon menempati sisi barat, sedang 2 perangkat gamelan slendro pelog Kyai dan Nyai Riris Manis (dibuat pada masa Sri Sultan HB VI, -Red) yang bergya mataram berada di sisi timur.
Dari pendapa melewati pringgitan sampailah di ruang dalam yang berfungsi sebagai ruang pengenalan, dimana terdapat sebuah pasren atau krobongan berikut kelengkapannya, sebagai perangkat untuk upacara pemujaan Dewi Sri atau Dewi Padi yang telah memberikan kemakmuran.
Di ruang pengenalan ini terdapat koleksi Wayang Kulit Purwa, koleksi ukir kayu motif Cirebon, Genta besar dari Candi Kalasan, miniature Kereta Kuda, koleksi topeng kayu gaya Jogja, kain batik gaya Jogja dan kain kampuh. Ruang Pengenalan ini berfungsi untuk memperkenalkan berbagai jenis koleksi, sebelum mencermati koleksi-koleksi yang di pajang di ruang pamer berikutnya.
Meninggalkan Ruang Pengenalan, selanjutnya menuju Ruang Pra Sejarah yang menyajikan benda-benda peninggalan jaman pra sejarah yang menggambarkan cara hidup seperti berburu, mengumpulkan dan meramu makanan, cocok tanam dan aktivitas ritual manusia purba.
Ruang Klasik dan Peninggalan Islam adalah ruang pamer berikutnya. Di ruang ini terdapat koleksi bersejarah peninggalan jaman Hindu-Budha sampai ke masa kerajaan Islam, yang menggambarkan system kemsyarakatan, bahasa, religi, kesenian, ilmu pengetahuan, peralatan hidup dan system mata pencaharian.
Meninggalkan Ruang Klasik dan Peninggalan Islam menuju ke Ruang Batik. Melihat koleksi yang dipamerkan di Ruang Batik, dapat dlihat bagaimana cara pembuatan, bahan, peralatan serta beragam fungsi batik yang dilengkapi dengan dokumentasi foto.
Setelah Ruang Batik, koleksi selanjutnya dapat dilihat di Ruang Wayang. Di ruang ini dapat diketahui beragam misi pertunjukan wayang yang tidak melulu memainkan lakon Mahabarata dan Ramayana. Wayang dengan menyesuaikan situsi dan kondisi mampu dikemas dengan mengangkat lakon-lakon yang lebih akrab dengan lingkungan dan kehidupan masyarakat pendukungnya, atau dengan penampilan misi-misi tertentu.
Ruang Topeng menjadi tempat memajang koleksi berikutnya. Di ruangan ini, dengan melihat koleksi topeng yang ada dapat ditelusuri perkembangannya yang diringi oleh perkembangan nilai-nilai budaya yang melingkupinya baik sebagai perangkat upacara, pertunjukan atau hanya seni rupa semata.
Ruang Jawa Tengah dipenuhi dengan koleksi berupa hasil kerajinan kayu, perak dan logam serta berbagai sarana perlengkapan upacara daur hidup secara lengkap sebagai bagian dari tradisi masyarakat Jawa Tengah.
Selepas Ruang Jawa Tengah adalah Ruang Bali yang terbagi dalam 3 ruang. Sebagaimana cirri khas kehidupan masyarakat Bali, diruang ini penuh dengan koleksi yang bermakna keagaam dan tradisi kemasyarakatan. Seperti perangkat upacara serta tradisi-tradisi yang melingkupinya seperti rumah adat, penari keris dan sabung ayam.
Yang tak kalah menarik dari koleksi peninggalan sejarah yang dimiliki Museum Sonobudoyo adalah koleksi emas yang terpampang dengan megahnya di Ruang Emas. Keaneka ragaman bentuk dan jumlah koleksinya menjadi daya tarik tersendiri. Koleksi yang dipajang tak hanya emas sebagai perhiasan, seperti gelang, cincin, kalung dan sebagainya, tetapi juga terdapat beberapa patung dewa-dewi, topeng, senjata, mata uang sampai yang masih berupa lempengan.
Melihat koleksi Museum Sonobudoyo, ingatan akan tergiring kembali ke masa lalu yang kaya dengan tradisi kehidupan. Tradisi hubungan antar masyarakat, kerajaan dan hubungan dengan para dewa-dewi yang diyakini telah memberikan kehidupan.
Museum yang juga merupakan sarana pendidikan, khususnya dalam bidang seni-budaya dan kepurbakalaan ini, dapat dikunjungi pada hari :
Selasa s/d Kamis: Pukul 08.00-13.00 WIB
Jumat & Sabtu : Pukul 08.00-11.00 WIB
Minggu : Pukul 08.00-12.00 WIB
(Jo/Sin)
KALIAN tentu tahu unta bukan? Hewan yang dijuluki ‘kapal gurun’ ini telah digunakan oleh bangsa Mesir sebagai alat transportasi sejak lebih dari 3.000 tahun yang lalu. Sebagai alat transportasi, tentu unta kerap kali harus melakukan perjalanan panjang yang melelahkan.